Showing posts with label story of me. Show all posts
Showing posts with label story of me. Show all posts

Tuesday, November 02, 2010

Lantai Kamar Mandi

dalam posisiku berjongkok ini, tiba-tiba aku terpikirkan pertanyaannya beberapa waktu lalu, 
"yang..., kita punya persamaan nggak sih?"

rasanya persamaan adalah hal yang umum disebut-sebut dalam hal berpasang-pasangan. cocok karena sama-sama suka ini..., sama-sama hobi itu..., sama-sama berminat di anu...
hhhhh.... cuma membayangkan tanda sama dengan diantara kamu dan aku saja kok susah... :(

dia masih dimeja kerjanya, entah sekedar browsing, blogging, fesbukan, ym-an
aku berdiri disampingnya, lalu kataku : 
"yang, lantai kamar mandi kita sama, ya warnanya ya motifnya"

tanpa mengalihkan matanya dari monitor PC, dia hanya berujar 'haa??!'

"kan pernah tanya, persamaan kita apa, ya itu tadi..lantai kamar mandi"

- cup - dan aku pergi, tanpa menoleh lagi. 
mungkin dia masih belum paham, 
mungkin juga paham tapi nggak bisa mengerti atau justru geli.

aku sendiri lebih suka kita berbeda, jadi kita masih bisa saling bertegur mesra daripada kita sama tapi tidak perlu lagi saling bertanya,


mydesk
021110

Friday, April 10, 2009

Berita Duka dari Kawan

Katanya kalo kita bener tulus dengan perasaan kita ya udah....ngga usah digembor2kan, tapi berhubung gw canggung, selalu jadi orang yg canggung, jadi ngga tahu harus ngomong apa.
Gw tahu lo sedih, bahkan mungkin hancur lebur perasaan lo.
Eh, kalo gw bilang gw bisa ngerti perasaan lo, kedengar basi ngga sih?
Kemarin lo kabarkan kalo cowok lo *kita sepakat nyebut dia sebagai cowok lo, kan?* bakal pulang. Balik ke negaranya, balik ke keluarganya.
Ngga usah lo cerita kalo mata lo otomatis langsung bendol2 segede bola pingpong, gw tahu kok apa yg sudah jadi kebiasaan kita, perempuan, kalo merasa sakit di hatinya. Mewek semewek-meweknya, sendiri ataupun ditengah keramaian sekalipun.
Tapi kenapa ya, gw ngga terlalu khawatir sama kondisi elo. Kita sudah bahas ini panjang lebar. Bahkan ketika lo mutusin untuk melanjutkan langkah lo bareng doi, gw selalu dukung lo. Meski kemungkinan lo cuma 0.99%, gw tetep dorong lo buat mengejar keajaiban itu.
Dan bahwa dia akan pulang pun sudah ada dalam rencana2 elo, dan bbrp belas kemungkinan setelah itu pun sudah kita bayangkan, dan mereka-reka reaksi apa yg bakal muncul dari lo dan langkah apa yg bakal lo lakuin.
So teman, bersedihlah sekarang, menangislah sekarang.
Karena besok senin, gw ngga tahu musti gimana ke elo kalo lo masih nangis2 juga.
Piss gels...

GR21/35 - 1.13pm

Wednesday, March 26, 2008

harga diri

Aku, - hmm...buat beberapa teman mungkin nggak terbiasa mendengar kata 'aku' - terima saja...ini hanya untuk memudahkan, karena 'aku' masih belum terbiasa menyebut 'gue' untuk beberapa temanku yang lain - suatu kali pernah dihadapkan dengan kemungkinan bahwa aku sedang diremehkan.

Iya, diremehkan atau mungkin sama artinya dengan digampangkan, dianggap tidak penting perasaannya
Aku masih bingung, belum mengerti, bahkan sampai sekarang juga - kalau aku tidak merasa diremehkan, ya nggak apa-apa dong... - tapi buat orang-orang disekitarku mungkin akan berpikir, "idih, bodoh betul"

Lalu marah, beberapa kali sempat terlontar rasa heran dari beberapa teman, bahwa aku payah atau bodoh (sekali lagi) karena tidak bisa marah dengan semestinya
Jadi ingat, pernah suatu kali temanku mbatalin janji di menit terakhir, aku marah saat itu - sebenarnya aku lebih suka menyebutnya 'kecewa berat' dan sempat ngomel ke teman yang lain lagi - sebut saja si A
Esoknya, teman yg mbatalin janji tadi nanya, 'lu masih marah ya?'
Haha..., lagi-lagi aku nggak tahu, marah itu musti bagaimana, yang jelas aku masih kecewa
Aku cuma bisa jawab - 'ya, kemarin gw marah..'
Dia mendesak, 'sekarang?'
setelah diam 2 detikan, aku cuma bisa jawab - 'gw masih belum lupa rasa marah gw kemaren itu'
Cool ya? - waktu itu aku cuma mbayangin, aku memang kecewa, tapi dampaknya waktuku ternyata bisa digunakan untuk hal-hal lain yang semula tidak terpikirkan
Lucunya, si A justru heran setelah tahu aku masih mau ngomong sama teman tadi - dia pikir aku harusnya marah dan menghukum temanku tadi dengan mendiamkan - sekali lagi aku nggak habis pikir - memang perlu ya?
si A bilang, itu supaya aku nggak diremehkan, dan lain waktu nggak akan terulang lagi
Aku justru terpikir - kalo aku marah dengan mendiamkan, lain waktu aku nggak akan punya teman lagi

Lalu sempat ada diskusi mengenai harga diri, masih ada hubungannya dengan ketidakberdayaanku untuk marah dan kecenderunganku untuk diremehkan - katanya itu sama dengan nggak punya harga diri
Hah? Harga diri itu bentuknya kaya apa sih? apa disegani, ditakuti, dikagumi ?
Salah nggak kalo aku justru berpikir, harga diriku terlalu amat sangat banyak sehingga ketika ada yang melukai sedikittt saja, itu nggak akan mengurangi harga diriku yang amat sangat melimpah ini
salah nggak kalo aku justru berpikir, orang yang mudah merasa diremehkan, mudah marah justru harga dirinya sedikit sekali, jadi akan merasa berkurang kalo ada orang yang menyakitinya
Tentu saja, ini diluar kemungkinan perlakuan orang terhadap kita yang merugikan - dunia maupun akhirat - melukai jasmani, menghina keyakinan dan menyakiti orangtua kita

Thats all..





















Friday, January 11, 2008

Menata (menjaga) Hati

Kenapa terasa keruh? Kenapa terasa ada yang mencubit - jauh didalam dada ini?
Menggelisah bagai angin yang tak tentu arah
Terserak seperti ombak -
hihi..nggak nahan - lagi ngga bisa puitis,
baru dapet obat tadi pagi, uhm..uhmm... manis..,
Sepertinya sudah waktunya menata hati,
Bukan hanya hatiku, tapi hatimu, hatinya, hati mereka
Hati orang-orang disekitarku yang pernah bahkan sering sekali aku porak porandakan
Maaf ya ..., aku tidak pandai mengucapkan kata maaf - sama seperti aku tak pandai berkata terimakasih
Apalagi harus berkata sayang..., cinta..., say...,, ah latah - tunjukkan saja, apa susahnya
Disitulah kusakiti hati-hati yang sekian banyak itu
Janji deh, memang bukan dalam seketika - tapi aku akan belajar untuk menjaga hati kalian
Belajar berkata sayang, cinta... tentu saja asli, murni, tulus dari dalam hati
Kalau tidak dari hati.., hmm...jangan harap, mulutku akan terkunci rapat - bahkan hanya untuk berkata 'suka'
Tapi lebih dahulu aku akan menata hatiku, tak apakan?
Setelah itu akan kujaga, supaya aku punya cukup hati untuk menjaga hati kalian juga..


my desk, January 2008
...andai akhirnya kau tak juga kembali
aku tetap sendiri, menjaga hati...




Tuesday, January 01, 2008

menoleh, sekali lagi, beberapa kali lagi


'kenapa diam?'

'uhmmm..aku bingung..'

'tentang?'

'tahun lalu..'

'baru semalam kau lewatkan bukan?'

'yah...'

'apa yang kau bingungkan?'

'rasanya banyak yang belum terselesaikan....., ups...maaf, aku salah..., mana bisa selesai ya, kalau selesai, hidupku juga selesai dong ya,'

'ahhaahaaa....'

'maksudku, apa nggak bisa ya, hitungan tahun berganti, berganti pula apa-apa yang harus kita hadapi?'

'ehemm..., itupun juga salah, dua puluh sembilankali kau menghitung tahun berganti, mana mungkin kau punya dua puluh sembilan pula kehidupan yang harus kamu jalani?'

'masalahnya..., apa ya yang sudah aku capai di tahun lalu.., hingga semalam tadi? nggak ada..., tahun ini pun soal yang harus aku hadapi masih saja sama. Pekerjaan yang itu-itu saja, financial yang begitu-begitu saja, kekasih yang begini-begini saja, huff....'

'istighfar sayang..., Tuhan Maha Mendengar..., dikupingku saja kedengarannya kau sedang mengeluh, ditelingaNya...kau macam manusia yang tak bisa bersyukur....'

'Astaghfirullah....'

'Nah, kau mulailah melihat kebelakang memakai kacamata plus, jangan melulu memakai kacamata minus, lihat apa yang sudah kau lakukan..., banyak juga kan yang sudah kamu capai?'

(termangu...menghitung-hitung kebelakang waktu yang sudah terlewati sepanjang ingatan)

'paling tidak..., kau sudah membahagiakan orang-orang yang mengenalmu, membahagiakan aku..'

(senyum terkembang...lengan meraih)

'apa-apa yang belum selesai menurut kau tadi, jadikan titik awal untuk langkah kau ditahun ini...'

'jangan lagi menengok masa lalu?'

(cup, kecupan kecil melintas didahi)

'tidak, kau salah, untuk kau belajar...tak mengapa menoleh sekali ke masalalu, beberapa kalipun boleh.., asalkan untuk menjadi pedoman untuk berjalan maju dan bukan membuatmu melangkah mundur....'


Bintaro, 1 Januari 2oo8








Wednesday, December 12, 2007

Bermimpi Saja

Ada yang bilang, bermimpilah...karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi mu
Ada yang bilang, ucapkan mimpimu - afirmasi - dan berpikirlah, karena hukum tarik menarik itu ada, karena kekuatan pikiran itu nyata
Ada yang bilang bermimpilah, seindah-indahnya.... setinggi-tingginya
Kalo aku bilang - setuju, tapi dengan tambahan : dan berpijaklah....

Oahhmmmm....., dulu aku pernah bermimpi - menikah dengan sahabat baikku. Dulu aku belum sadar - kalau bermimpi yang disengaja itu sah adanya. Jadi mimpi itu hanya datang dan pergi. Jadi langkahku, tindakanku, fikirku, ucapku tak satupun yang tertuju untuk mewujudkan mimpiku itu. Dulu aku takut bermimpi.
Sekarang apa mimpiku? Menikah lagi dengan sahabatku itu? Hahaa...tentu saja bukan. Aku justru hadir di pesta pernikahannya.
Ya, pesta...bukan akad nikahnya. Mana aku sanggup - karena saat itu dia masih jadi salah satu impian terbesarku.
So, aku mau mimpi apa lagi sekarang ini? Hmmm....rasanya akan lebih asyik kalo mimpiku hanya aku yang tahu. Biarlah mimpiku ini sekaligus menjadi doa, hanya milikku dan Tuhanku.

Monday, January 22, 2007

Monolog









(1)
aku sudah mati…
baru saja.

Tentu saja bisa,

Ada yang membunuhku
Menjatuhkan aku dari ketinggian
Mendorongku setelah memukul kepalaku

Tentu saja luka
Aku ditusuk, tepat di hati
Karenanya aku berdarah

Kenapa harus memukulku?
Kenapa harus menusukku?
Karena aku tak kunjung mati...

Iya, telingaku juga luka
Ini luka sebelum dadaku ditikam
Lebih dulu telingaku disakiti,
Lalu kedua mataku,
Baru hatiku

Karena aku tak langsung mati,

Siapa yang membunuhku?
Kau tanya siapa yang membunuhku?
Kamu, sayangku...

(2)

Aku pergi saja,
Sudah ada seseorang disampingmu,
Ijinkan aku pergi,
Jangan,
Jangan suruh aku memilih lagi,
Karena aku punya pilihanku sendiri
Dan aku telah putuskan,
Aku memilih kehilanganmu

Cintakah aku padamu?
Tentu saja,
Butakah kamu?
Tulikah?
Tentu saja aku mencintaimu,
Sangat,
Jadi kenapa aku harus pergi?

Aku lelah, capek
Aku tak cukup berharga untuk kau cintai

Bukan?
Atau, atau kamu, yang tak bisa menghargai…memberi harga padaku?

Aku akan mulai dari...menganggapmu telah mati,
Kamu mati

Monday, September 18, 2006

Aku rindu teduhnya lindunganmu
Satu...dua...tiga...empat...lima
Panca masa sejak kau mati
Batangmu patah dan membusuk
Tidak mudah menanam kembali ditempat kau pernah tumbuh
Kalaupun ada yang tertanam, tak bisa tumbuh lebih sampai akhirnya mati atau kucerabut dengan paksa
Tapi hey!!!
Ada kuncup kecil ditanah bekas kau berdiri,
tunaskah itu,
Siapa sangka kau masih berakar? dan HIDUP?

to my beloved monkey - Sept 18th '06

Wednesday, June 21, 2006

aku ingin menangis

waktu kau kabarkan 'aku sudah bertunangan, sayang...'
aku justru terkekeh
'aku juga sudah', selorohku
bukankan kau memang sudah bertunangan? denganku kan?
aku masih terkekeh waktu kau menambahkan,
'pernikahannya di bulan Syawal, setelah lebaran, supaya semua teman bisa datang'
senyumku makin lebar
'setuju', ujarku
apalagi yang paling membahagiakan, selain menikah dengan disaksikan teman-teman,
apalagi kalau mantan pacarku juga datang, rasain dia!
'setelah itu kami akan bulan madu ke Bali, saat pergantian tahun'
senyumku lenyap
'kami' tercetus dengan nada tanya dari mulutku
kenapa - kami, bukan...-kita?
'iya, kami, berdua saja'
DUARRR! DUGG!
aku kembali ke alam nyata
telepon masih menempel ditelingaku dengan suaramu diujung sana
tiba-tiba aku ingin menangis,
'ha-ha, betul juga, kamu kan belum puas berdua saja dengan dia'
'iya, kami pacaran baru 2 bulan ini, jadi pacarannya dilanjutkan setelah menikah nanti'
dua bulan,
enam belas tahun,
apa bedanya?
bahkan setelah mengucap 'sampai jumpa'
aku masih termangu disini
takjub, karena aku tidak juga bisa menangis, meskipun seribu kali aku ingin
aku ingin menangis

Bintaro, middle March 2006

Sunday, March 12, 2006

Mimpi - Obat Rindu

Semalam,
inginku untuk berbincang denganmu tercapai
inginku bersandar dilenganmu terolehkan
inginku beradu kata denganmu tergapai

Dalam mimpi pun aku sadar,
Ini hanya mimpi, sayang....
Karna inginmu yang terpendam telah menebal
dan tertumpah ruah,

Tapi biar,
biar kutunggu saat mimpi ini terulang
saat aku bisa duduk berhadap bersisihan denganmu
saat aku bisa bercerita apa saja
yang selama ini tersembunyi
Karna senyummu disitu tiada beda,
Halus suaramu tiada ubah,

Disitu - dimimpi itu
Kau tetap Ayahku,
Kutunggu lagi datangmu...
Mengobati rindu lewat mimpiku...

Friday, November 18, 2005

Menghilang Saja ( and I'm walk away )


Sialan lo!
Seperti selilit di gigi,
yang begitu dicabut, lega juga gue
Damn yo!
Sejernih air kamar mandi,
Sebening minyak goreng bebas kolesterol,
Ikhlas lillaahita'alla gue putusin lo
Don't try to push me,
Don't try to threat me,
Don't try to scared me,
And don't try to call me again
You such as phyco
Please man,
It’s better for both of us to unknown each other
You’re north and I’m south
You’re white and I’m totally dark
Just think that I’m not good for you,
Eventhough…honestly I think I was lucky not to have you
Just disappear from my life
As I walk away from your life..
Bye ....

'can breath again'
thursday 17112005

Friday, October 14, 2005

Dear God,


Dear God,
I felt so wrong today,
I've done sin
I've lied
I've impinged your interdict
I've affronted your holy time

Please accept my confession
Please protect my road
Please accept my regret
Please remind me
if once again I do this mistake

Please...,
release me from this guilty feeling

my desk, October 14 2005

Friday, October 07, 2005

Bernyanyi saja (tanpa batas)


Kemarin aku memang sedih
Tapi hari ini aku bisa bersuka
Kemarin aku ingin menangis
Hari ini aku kembali tertawa
Jadi bernyanyi saja

Irama mengalun ditelingaku
Masih lebih manis dari kata-kata cintamu
Senandung di hatiku
Masih lebih jujur dari gombalanmu
jadi bernyanyi saja

Aku lupa kalau aku bebas
Dulu aku pernah terbataskan, namun tidak lagi
Dunia terlalu indah untuk kau batasi sayang,
Biar Tuhan saja yang membatasi,
Kau pernah terbataskan oleh materi – itu duniawi
Sekarang kau ciptakan batasmu sendiri

Dear honey,
Cinta kasih sayang janganlah berbatas
Kadang kita tanpa sadar menciptakannya
Batas harta, berbatas adat, sebatas jasmani
Terbataskan keyakinan, terbatas oleh keluarga
Bahkan kematian pun janganlah jadi batas
Biar saja Tuhan yang membatasi

Melihat senyum ibuku itulah paling bahagiaku
Senyum bunda tak berbatas, seperti kasihnya
Tapi tangisnya, itulah batasku
Jangan lanjutkan lagi kesedihannya
Jangan pompa lagi air matanya

Jadi sayang,
Masih ingin membatasi cintamu lagi?
Kalau begitu,
biar aku bernyanyi saja
karena, lihat ...
meski laut pun berbatas,
tapi itu jauh disana...
masih lebih jauh dari langkah kita



my desk, friday Sept'05

Monday, September 19, 2005

Yang Terbaik Bagimu - Ada Band


(Jangan Lupakan Ayah)
Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmuKau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak
Reff:
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu
Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

Wednesday, September 07, 2005

Menangis saja



Langkah kecil lincah berlarian,
Ingin menapaki semua sisi kehidupan,
Sesekali melompat meraih
Sesekali berjingkat mengendap
Sesekali melesat menyergap mendekap
Saat terantuk terjatuh,
Maka menangis saja

Tawa-tawa kecil riangi langkah
Senyum-senyum terulas mengindahi
Senandung hati ramaikan langkah
Gelak terbahak luapkan suka cita
Saat terbentur tersungkur,
Maka menangis saja

Mimpi warna-warni
Cita cinta terlambung
Suka ria erat digenggam
Saat terlepas…
Maka menangis sajalah

(Patioenoes tigo – kawandosowolu)

Friday, August 26, 2005

I remember when (2)

semalam,
aku ada disuatu ruangan,
pandanganku mengitari
dari satu sudut ke sudut yang lain
begitu banyak manusia

satu adegan yang menyita perhatian
memaksa untuk tidak mengalihkan pandang
meski terasa ada yang sakit
disini, dihatiku mungkin

seorang gadis,
duduk merapat,
bersandar manja
pada seorang lelaki
setengah baya

dari wajahnya aku tahu
mereka ayah dan anak
dan hey!
rasa sakitku makin terasa
bahkan menjalar ke wajah dan mataku
yang kian memanas

gadis itu menyandarkan kepalanya
dibahu yang tidak lagi kuat itu
mungkin dia mengantuk,
karena memang malam telah larut

tapi please ....
aku iri,
pada gadis itu

aku tidak punya lagi bahu seperti itu
yang menguarkan aroma 'bapak'
aku tidak punya lagi lengan itu
yang bisa kupegang erat saat aku perlu

aku ingat, kapan ya ....
dibahu seperti itu
aku pernah menangis
aku pernah berpegangan
waktu berboncengan
waktu sekedar berjalan dibelakangnya

pak, tahu tidak ..
kadang aku perlu menyandarkan kepala ini
kadang aku perlu berpegangan di lenganmu
kadang aku perlu mencari kekuatan digenggaman tanganmu
kadang aku perlu bercerita kebahagiaanku
kadang aku perlu bercerita dosa-dosaku
kadang aku perlu dimarahi lagi
seperti dulu ...

Sudirman Aug 26, 2005
still missing you...




Tuesday, August 23, 2005

Berteduh di Langit Biruku (3)


Berat juga belajar menyukai langit ini,
Kadang seperti cinta–suka–kasih–cemburu yang palsu
Hanya duplikasi
Menyentuh ketika disentuh
Membelai ketika dibelai
Mencium ketika dicium
Sampai tiba waktunya
Mencintai ketika dicintai
Meski lelah, sampai juga saatnya,
aku bisa menyebutnya ‘langitku’

Hingga waktu berganti menyebutnya,
pada langit ini aku bersandar,
tidak selamanya suka
ada waktunya tersaput mendung
ada kalanya dibasahi gerimis
ada saatnya diguncang halilintar
ada ketika rengkuhan langit tak lagi erat
kala berganti hari , aku masih ada disana
kala itu sadar datang,
‘aku telah jatuh cinta pada langitku’

Kidung dijiwa mengalun
Kau udara yang ingin untuk kuhirup
Kau yang kuat kala ku lemah
Kau yang berkata kala ku diam
Kau tempatku berlindung kala badai

Dari hari – minggu – bulan – hingga tahun,
Langit ini mulai pudar kecerahannya
Awan tak lagi putih
Angin berhembus semakin kencang
Memutarbalikkan alam kasih
Memporakporandakan langitku
Hujan tak lagi hanya gerimis,
Badai kerap melintas

Friday, August 19, 2005

I remember when (1)


(August 25, 2004)
I pick you a t the door, when you back home from your office.
I show you my home work, eventhough I never have it. I’m not school yet !!
I give you my sister’s book, that full with my handwriting.
Then you laugh….
You call me smarty, your sweety daughter.

You raise my hands, lift me up and …swing !!! To the left then to the right.
I’m laughing and feel glad.

Then I’m growing, bigger and bigger, we often speak each other , about everything.
Politics, we discuss about logic and we talk about life. How our lifes supposed to be.
You trust me to much.
You gave me all the change and challenge
So that, I felt that I’m your special daughter
I’m your golden child !!!

Wednesday, August 17, 2005

Berteduh di Langit Biruku (2)


Langit itu bernama ‘cinta’
Menimang lembut pada hamparan awannya
Putih,
Awan cinta ini membawaku jauh – menjauh dari langit biruku
Bintang – kau sudah temukan langitmu, kamu masih saja
manis berkata, sebagai bulan
Biarpun perlahan menjauh, sesekali tatapan masih tertambat pada langit biruku
Sampai kapanpun kau tetap langit biruku, janji hatiku

Tuesday, August 16, 2005

Berteduh di langit biruku (1)


Dulu,
Kamu bisa tahu
Kalau aku cinta kamu
Maka kamu berlalu
Karena kamu tak mau
Kamu,
Berkirim kata
Lewat mata
Dari pena
Tapi tidak dalam bicara
Lirikmu,
Menyelinap kalbu
Iramamu,
Adalah nafasku
Lagumu,
Jadi hidupku
Musim berganti yang ada hanya menanti
Berlalu masa, cinta pun menggila
Menutup mata dunia juga hati
Menulikan telinga
Mematikan indera
Mendustakan realita
Kamu masih belum mau
Aku pun tak pernah malu
Malu hanya milik si bersalah
Dan salahkah mencintai langit biruku?
Bukan langit biru, katamu
Kau bulan,
Yang selalu dan selamanya
Berkawan denganku, si bintang
Masih katamu juga
Tanpa ingat,
Ada jutaan bintang yang jadi kawannya
Salah siapa kalau :
Bulan selalu mengitari bumi
Tidak selalu disisi bintang yang sama setiap saat
Selalu tersenyum pada semua bintang
Dan bintang ini menangis
Inginku,
Kau tetap langitku
Karena disitulah aku, si bintang
Selalu terpahat di langit yang sama
Pernah kau marah
Bulan yang tak lagi mau berkawan dengan bintang
Mendunglah langitku, gelap
Bintangpun takut tersenyum
Ditelingaku, langit terdengar berkata
“Carilah langit yang lain”
Bintang ini berlalu, kau tahu….
Menguji rasa ketika sepotong langit merengkuhnya
Merasakan hangat dan manis yang berbeda